Langganan Artikel

Follow Now.....!

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Kamis, 01 Agustus 2013

tips merawat gigi di saat puasa

Sudah pasti kita sering mendengar mengenai tidak dianjurkannya perawatan gigi saat sedang berpuasa karena dikhawatirkan ada cairan yang tertelannya yang akan membatalkan puasa. Padahal, selama berpuasa kesehatan gigi juga harus tetap diperhatikan selain untuk menjaga kebersihan, perawatan gigi yang baik juga akan menunjang rasa percaya diri seseorang. Lalu bagaimanakah perawatan gigi yang baik saat berpuasa menurut dokter gigi?

“Sebetulnya batal puasa itu kan karena makan atau minum. Menurut saya kalau cuma bersihin karang gigi, kumur-kumur, tidak masalah asal jangan tertelan. Selama bulan puasa kesehatan gigi kan harus tetap dijaga,” tutur Prof Heriandi Sutadi, drg, SpKgA (K), PhD, spesialis kedokteran gigi anak, Rabu (17/7/2013).
Prof Herdiadi juga menambahkan jika pasien tetap bisa melakukan perawatan gigi ke dokter gigi, tidak hanya membersihkan karang gigi, penambalan gigi juga bisa dilakukan asalkan tidak menelan apapun saat melakukan perawatan. Tidak mungkinkan jika kita harus terus menahan rasa sakit selama sebulan penuh karena takut mengganggu jadwal puasa.

“Sedangkan untuk mengatasi masalah infeksi, ada sebagian ulama yang mengatakan bahwa mengatasi infeksi dengan memberi suntikan dari mulut tidak apa-apa, tapi saya tidak tahu juga bagaimana pastinya,” ujar Prof Heriandi, yang pernah menjabat sebagai Ketua Ikatan Dokter Gigi Anak Indonesia (IDGAI).
Mengenai obat yang akan diberikan tetap sesuai dengan dosis yang dibutuhkan olwh pasien hanya saja untuk waktu pwminuman obat diserahkan kepada pasien. Jika tidak ingin mengganggu puasa, obat bisa diminum sesuai dengan jadwal sahur dan berbuka.

“Kalau minum obat kan ada yang sehari 1 kali, 2 kali, dan 3 kali. Misalnya antibiotik, kan ada yang harus diminum 2 kali sehari. Jadi, ya pasien tinggal pilih dan disesuaikan antara jadwal selama puasa dengan jadwal obat yang diperlukan,” tutur Prof Heriandi.

Rabu, 31 Juli 2013

Gereja Tua Dialih fungsikan menjadi masjid

Sudah lama terbengkalai. Digunakan untuk toko dan pabrik. Kini bangunan itu beralih fungsi. Adalah gereja di wilayah Clitheroe, Lancashire, Inggris, yang diubah menjadi masjid.
Alasan utamanya, karena sudah lama tak terpakai dan banyak warga Muslim di sana yang membutuhkan sebuah masjid untuk beribadah. Semua kalangan sudah mengizinkannya. Benar-benar toleransi beragama yang sungguh harmonis.

Dulu kala, bangunan ini adalah sebuah Gereja Mount Zion. Paling terkenal di Clitheroe, kala itu. Bahkan sempat menjadi lukisan masterpiece karya seniman kenamaan, Laurence Stephen Lowry. Judul gambarnya, A Street in Clitheroe -- Jalan di Clitheroe.
Namun entah mengapa gereja ditutup selama 14 tahun. Beberapa kali gereja ini berubah fungsi menjadi toko amunisi, pabrik kotak logam dan garmen. Sejak itulah, warga Muslim mengajukan gereja tersebut berubah fungsi sebagai masjid sejak tahun 2006.

Meski sempat ditentang banyak pihak, terutama dari anggota partai sayap kanan, Partai Nasional Inggris, yang terkenal rasis, kala itu, pengajuan warga Muslim di sana akhirnya disetujui.
"Dukungan dari beberapa wilayah sangat baik. Kami mendapat reaksi positif dari kelompok antar-keyakinan. Dan masyarakat atheis juga berada di balik proyek ini," ujar Ketua Pusat Pendidikan Islam Media di Lancashire, Farouk Hussain, seperti dikutip dari Dailymail, Rabu (31/7/2013).
Dukungan juga datang dari Kanselir Clitheroe, Jim Shervey. Dia bilang, warga Muslim berhak beribadah di mana pun. Pertentangan sudah berhasil diselesaikan.

"Gedung ini dipakai untuk kepentingan positif. Dan jelas lebih baik digunakan daripada kosong tak terpakai," kata Jim.
Kini 7 tahun telah berlalu. Proses konversi gedung tersebut sudah menginjak tahap akhir. Tinggal dipasang pemanas, lampu, dekorasi dalam, pintu dan jendela. Dana pun masih dikumpulkan.
Indahnya Toleransi

Keindahan toleransi juga terpancar dari Skotlandia, Inggris. Gereja Episkopal St John di Aberdeen yang kuno dan megah memberikan ruangnya untuk Masjid Syed Shah Mustafa Jame yang berada di sebelahnya.
Saat cuaca ramah, tak jadi masalah. Namun kala musim dingin yang disertai angin kencang, para jemaah terpaksa beribadah di tengah cuaca membekukan, di atas trotoar yang kasar.
Melihat kondisi tersebut, Gereja St John membuka pintunya lebar-lebar bagi umat muslim yang ingin menunaikan ibadah salat. Lima kali dalam sehari. Dan terutama saat Salat Jumat. (Riz)

Sabtu, 13 Juli 2013

Doa buka puasa dan doa makan sahur


Doa buka puasa :
Allahumma laka Shumtu wabika aamantu wa’ala risqika afthartu birahmatika yaa arhamar raahimiin.

Artinya:
Ya Allah untukMu aku berpuasa, kepadaMu aku beriman dan dengan rizki dariMu aku berbuka, dengan rahmatMu wahai Tuhan Yang Maha Penyayang.


Doa makan sahur :
Nawaitu shauma gadhin ‘an adaai fardhu syahri ramadhaan haadzihis sanati lillahi ta’aalaa.

Artinya:
Dengan nama Allah yg maha Pengasih maha Penyayang saya berniat berpuasa sehari penuh besok dalam bulan ini bulan Ramadhan, karena Engkau ya Allah.

Jumat, 07 Juni 2013

Pelaku pemukulan pramugari

Kementerian Perhubungan mendukung penuh langkah pramugari Sriwijaya Air Nur Febriani untuk menempuh jalur hukum atas kasus pemukulan yang dilakukan Kepala BKPMD Babel, Zakaria Umar Hadi.
  Bambang S Ervan, Kepala Pusat Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan (Kemenhub), mengatakan, masalah aturan larangan penggunaan telepon genggam sudah jelas diatur dalam UU Nomor 1 tentang Penerbangan. Apalagi sekarang kasusnya ditambah dengan kekerasan fisik terhadap pramugari yang menjalankan tugas.
  "Ini bukan sekadar kasus kekerasan, tapi ini juga menyangkut masalah profesi dan keselamatan penerbangan. Jangan sampai hanya karena satu orang, ratusan penumpang pesawat bisa menjadi korban. Seharusnya pejabat tersebut bisa dikenakan pasal berlapis," tegas Bambang kepadaTribunnews.com, Jumat (7/6/2013).
  Menurut Bambang, Febri sudah dalam jalur yang benar dengan menegur Zakaria yang masih asik bermain telepon genggam ketika hendak take off."Tugas pramugari sudah benar yaitu mengingatkan bahaya dari penggunaan ponsel di atas pesawat. Tapi lagi-lagi ini masalah mental. Psikologis, terkadang sejumlah orang tidak bisa lepas dari telepon genggam," katanya.
  Terkait masalah tersebut, Bambang menuturkan, maskapai Sriwijaya Air bisa saja melakukan koordinasi dengan otoritas Bandara Depati Amir.
  Sementara itu, sejak pagi ini (7/6/2013), ada pesan berantai yang dikirim via  BlackBerry yang berisi soal ajakan kepada seluruh maskapai untuk memasukkan daftar hitam kepada Zakaria atas tindakan kasarnya tersebut.
  Namun, Bambang juga menjelaskan, hal itu tidak bisa dilakukan sebab semua orang punya hak dengan moda apa dia bakal bepergian. "Ini untuk diperhatikan, semua orang punya hak, karena ada freedom of movement," katanya.
  Juru Bicara Sriwijaya Air, Agus Sujono, mengatakan kejadian tersebut terjadi dalam penerbangan Jakarta menuju Pangkal Pinang dengan nomor penerbangan SJ078.
Agus mengatakan kejadian kekerasan tersebut terjadi saat pesawat mendarat. Menurut dia, saat pesawat hendak tinggal landas, Febriani telah mengingatkan Zakaria agar mematikan telepon selulernya.
"Ini seperti kejadian berulang, saat take off sudah diingatkan, lalu paslanding terjadi kejadian serupa," katanya.
  Saat peringatan untuk kesekian kalinya tersebut, kata Agus, Zakaria mulai kesal dan marah. Ia kemudian memukul Febriani dengan koran di wajah sebelah kiri dan telinga. "Memang ada perlakuan kekerasan fisik. Yang jelas ditampar," katanya.
  Agus menyesalkan respons Zakaria terhadap peringatan dari pramugari Sriwijaya Air tersebut. Menurut dia, Febriani hanya menjalankan prosedur demi menjaga keselamatan penumpang. "Kalau diperingatkan seperti itu harusnya minta maaf tapi ini malah sebaliknya," katanya.
  Kini, Sriwijaya Air menyerahkan seluruh proses hukum yang tengah berjalan kepada kepolisian. Agus mengaku pihaknya belum mengetahui pasal yang disangkakan kepada Zakaria oleh kepolisian setempat.
  Mengenai profil Febriani, Agus mengatakan, Febriani merupakan salah satu pramugari senior Sriwijaya Air dengan jam terbang lebih dari 5 tahun.
  Saat ini kasus tersebut masih diproses oleh penyidik Polsek Pangkalanbaru. Tersangka Zakaria dikenakan Pasal 351 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 2 tahun 8 bulan.

Kamis, 09 Mei 2013

Aku Keriting dan Hitam, Aku orang Papua, dan Aku Bangga

Banyak alasan seorang artis memutuskan untuk maju sebagai calon anggota legislatif (caleg) di Pemilu 2014. Penyanyi Jazz asal Papua Edo Kondologit memutuskan maju menjadi caleg karena keterpanggilan hatinya melihat tanah kelahiran yang tak kunjung sejahtera.

Edo menceritakan, dirinya kerap menyanyikan lagu tentang Papua yang indah dan kaya akan sumber daya, namun dia miris melihat kenyataan masyarakat Papua tidak sejahtera.

"Saya sebagai seniman Papua, selalu menyanyikan lagu Papua. Aku keriting dan hitam, aku Papua, tanah Papua kaya, jadi kebanggaan. Tapi tidak membuat Papua lebih baik. Masalah keterbelakangan dan kemiskinan tidak selesai di sana," ujar Edo di Gedung DPD Jakarta, Jumat (3/5/2013).

Melihat kondisi demikian, Edo yang sudah sejak 2007 menjadi kader dan pengurus DPP PDIP itu akhirnya memutuskan untuk maju kembali sebagai caleg, setelah Pemilu 2009 lalu gagal menjadi caleg di Dapil Papua Barat.

Edo menuturkan persoalan otonomi khusus (otsus) Papua masih menjadi sorotan dirinya. Menurutnya, sistem yang tidak benar menjadikan otonomi khusus di Papua yang seharusnya menjadi roh keberpihakan kepada masyarakat asli Papua justru tidak berjalan dan tidak menyentuh masyarakat bawah.

"Dana otsus itu besar sekali, ibarat seperti hujan uang, tapi ada pohon besar yang menampungnya sehingga tidak sampai ke bawah," kata Edo.

Jika persoalan Papua tidak kunjung diperbaiki, Edo khawatir hal itu akan menjadi isu internasional yang dikhawatirkan akan mengganggu NKRI. "50 tahun Papua bergabung dengan Indonesia tapi belum ada gunanya. Kalau kita tidak perbaiki ini bisa jadi isu internasional yang bisa mengobok-obok Papua," ucapnya.

Untuk berjuang menjadi wakil rakyat, Edo telah mempersiapkan diri sejak 2007 dengan mengikuti kerja-kerja politik di PDIP, selain itu dia juga telah menyiapkan sejumlah dana untuk kampanye di daerah pemilihannya.

"Saya tidak punya biaya besar. Yang jelas ada dananya, saya punya uang. Kita mau perang harus punya peluru dong masa enggak punya. Saya beruntung diundang nyanyi, gratis bolak balik ke Papua," tutupnya.

Sumber: chiliblub

Rabu, 08 Mei 2013

benarkah isu meninggalnya iwan fals ?

Situs jejaring sosial siang ini (8/5) masih digegerkan isu meninggalnya Iwan Fals, meski sang empunya sudah mengkonfirmasi bahwa berita itu salah, dan dirinya masih segar bugar.
Kabar meninggalnya Iwan Fals, legenda hidup musik Indonesia ini sudah mulai berhembus sejak Selasa kemarin (7/5).
Isu kepergian Iwan Fals, berembus pertama kali di situs jejaring sosial, dan pesan berantai di BlackBerry Messenger (BBM). Iwan Fals dikabarkan meninggal dunia di rumah sakit di daerah Jakarta Selatan.
"Turut berduka cita untuk Musisi Terbaik Kita, Bang Iwan Fals yang telah meninggal dunia di Rumah Sakit Putra Medica Jakarta Selatan, pada Pukul 13.41 WIB karena serangan Jantung," bunyi pesan itu.
Sang legenda dari kemarin langsung mengonfirmasinya lewat akun Twitter-nya, @iwanfals, Selasa (7/5).
"Yg bener tuh sy malah dikasih air putih & bunga warna merah jambu," begitu kicauan penyanyi bernama lengkap Virgiawan Listanto di Twitter.
"Maksudnya apa ya yg ngisuin sy meninggal?" tanyanya bingung.
"ya udah tak doain yg ngisuin sy itu panjang umur, klo perlu gak mati2," selorohnya.
"Amin." Begitu penutup kicauan Iwan Fals soal isu berita kematiannya.
Isu kematian ini sudah pernah berhembus Pada 2 April 2012, dikabarkan meninggal akibat serangan jantung.
Simpang siur ini masih hangat menjadi pertanyaan para pengguna jejaring sosial.

Sumber : Chiliblub

Minggu, 21 April 2013

Selamat Hari Kartini para wanita Indonesia

Proklamasi kemerdekaan segera diikuti merebaknya semangat anti-kolonialisme. Segala yang berbau kolonial dipersoalkan dan ditentang.

Tapi tidak dengan Kartini. Anak emas kaum etisi kolonial ini tidak dihapus namanya, tapi diambil-alih sekaligus dikukuhkan peranannya dengan lebih jelas dalam sejarah Indonesia.

Tidak butuh waktu lama proses pengambil-alihan Kartini dari wacana kolonial ke wacana nasional. Pada Kongres Perempuan Nasional yang digelar 4 bulan setelah proklamasi, Kartini sudah "gentayangan" dalam pidato-pidato para peserta. April 1946, belum setahun umur Indonesia merdeka, perayaan Hari Kartini sudah digelar.

Sejak itu, narasi Kartini di masa pasca-kolonial tak bisa lagi dihentikan. Ketika itu narasi tentang Kartini hampir sama dengan yang direproduksi di masa kolonial. Kartini disebut sebagai pejuang hak pendidikan perempuan dan (tentu saja) emansipasi perempuan. Nyaris tidak ada yang baru.

Modifikasi terhadap narasi Kartini justru dilakukan oleh gerakan kiri di Indonesia. Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) dan Gerwis (Gerakan Wanita Sedar) bertanggungjawab atas pembubuhan elemen anti-feodalisme dan anti-kolonialisme ini. Dua organisasi yang berafiliasi dengan PKI (Partai Komunis Indonesia) gigih berkampanye mengenai Kartini sebagai perempuan yang bukan hanya memperjuangkan hak perempuan di bidang pendidikan, tapi juga pejuang anti-feodalisme dan anti-kolonialisme.

Gerwani perlu dicatat lebih khusus dalam pokok soal ini. Mereka bukan hanya menerbitkan sebuah majalah khusus perempuan kelas menengah yang dinamai Api Kartini, tapi bahkan mendaku dirinya sebagai penerus cita-cita Kartini.

Pada 1965, tahun-tahun yang disebut "ibu pertiwi sedang hamil tua" itu, DPP Gerwani melansir pernyataan di Harian Rakjat: "Gerwani sebagai penerus tjita-tjita dan jedjak perdjuangan Kartini dan Clara Zetkin jang dalam meningkatan diri menjesuaikan dengan proses kristalisasi politik dewasa ini, merupakan gerakan emansipasi jang menghimpun wanita Komunis dan progresif non Komunis…."

Di situ Kartini disejajarkan dengan Clara Zetkin, perempuan komunis dari Jerman yang menginisiasi Hari Perempuan Internasional. Lewat Zetkin inilah bisa dikatakan bahwa Hari Perempuan Internasional pada mulanya berakar pada gerakan sosialis, bukan gerakan feminis.

Saya pernah melihat sebuah foto di surat kabar De Waarheid (yang terbit di Amsterdam) edisi 12 Mei 1954 yang menggambarkan suasana kongres Women's International Democratic Federation (organisasi yang dibentuk di Paris pada 1945). Dalam foto itu terlihat Rie Lips-Odinot (seorang anggota parlemen Belanda dari Partai Komunis) berpidato tentang kunjungannya ke Indonesia. Di latar belakang Rie Lips yang sedang berdiri di podium, terlihat potret Kartini terpasang di sebelah kiri dan Clara Zetkin di kanan.

Pensejajaran Kartini dengan Zetkin inilah yang membuat nama Kartini mencuat ke dunia internasional --khususnya gerakan kiri-- dan tak lagi menjadi monopoli orang-orang moderat Belanda yang diwakili kaum etisi yang mengkampanyekan politik asosiasi (kerjasama antara bumiputera dan Belanda).

Repro koran Het Vrije Volk edisi 3 September 1955, koran berkala terbitan kaum sosialis demokrat di Belanda. Tak heran jika ulasan tentang Kartini banyak dimuat di terbitan-terbitan organisasi berhaluan kiri. Surat kabar Het Vrije Volk, yang mengklaim sebagai suara kaum sosialis demokrat, pernah menurunkan potret Kartini yang di bawahnya tertulis kalimat: "revolutionnaire denkbelden" (ide-ide revolusioner).

Jika orang-orang kiri di Indonesia mencoba mengambil-alih narasi Kartini dari genggaman politik kolonial, maka orang-orang kiri di Belanda juga melakukannya. Proses itu berjalan paralel.

1964 menjadi puncak perayaan Kartini "resmi" menjadi orang kiri. Di tahun itulah, melalui Kepres RI No 108 Tahun 1964 yang dirilis pada 2 Mei 1964, Kartini sah menjadi pahlawan nasional.

Tampaknya Keppres itu sudah bocor sebelum secara resmi dirilis. Dua pekan sebelumnya, para perayaan Hari Kartini, Gerwani dan Gerwis merayakannya secara besar-besaran, termasuk di kedutaan-kedutaan Indonesia di negara-negara Eropa Timur. Edisi 25 April 1964 koran Harian Rakyat, yang redaksinya dipimpin oleh Njoto, memberitakan perayaan Hari Kartini di Moskow, Bukares, Praha dan Kuba.

Cara mudah Untuk memahami argumentasi Kartini sebagai simbol perempuan kiri adalah dengan menyimak buku "Panggil Aku Kartini Saja" yang ditulis dengan penuh semangat oleh Pramoedya Ananta Toer, orang yang menjadi master-mind Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat).

Lewat buku yang diterbitkan pada 1962 itu, dia mencoba meyakinkan pembacanya bahwa narasi Kartini yang disusun oleh Belanda itu terlalu menyederhanakan Kartini. Mula-mula Pram menggeledah operasi politik etis kolonial terhadap Kartini, sebagaimana dia membongkar kesengajaan pemerintah praktik membenamkan nama Tirto Adi Soerjo lewat buku "Sang Pemula" dan tetralogi Pulau Buru.

Bagi Pram, Kartini dan Tirto sama-sama korban politik kolonial. Jika Kartini disederhanakan oleh keluarga Abendanon, maka Tirto dibenamkan oleh Dr. Rinkes. Oleh Abendanon, urai Pram, Kartini hanya ditampilkan sebagai pribadi yang peduli dengan pendidikan, dan itu pun pendidikan dalam konteks politik etis kolonial yang mengedepankan gagasan politik asosiasi (kerjasama erat nan mesra antara rakyat terjajah dan penjajahnya).

Dengan menelusuri surat-surat dan dokumentasi yang bisa didapatkan tentang Kartini, Pram mencoba menunjukkan bagaimana Putri Jepara ini sudah memiliki benih-benih nasionalisme. Ditunjukkannya kutipan-kutipan yang menguraikan pendapat Kartini tentang kesetiakawanan yang melintasi ras, etnis dan agama. Tentu saja Pram tak lupa mengisahkan bagaimana Kartini melepaskan jatah beasiswa miliknya dan mengusulkan kepada Abendanon agar memberikannya pada seorang pemuda Minang yang cerdasnya tak ketulungan: Agus Salim.

Dengan agak tertatih-tatih, Pram menempatkan semuanya itu guna membangun argumentasi Kartini sebagai prototipe manusia Indonesia yang sudah memeram spirit anti-kolonialisme dalam pikirannya.

Selanjutnya, kali ini dengan argumentasi yang lebih meyakinkan, Pram menjlentrehkan pikiran-pikiran Kartini yang mengutarakan semangat anti-feodalisme. Pram mengutip ucapan Kartini: “Tiada yang lebih gila dan bodoh daripada melihat orang, yang membanggakan asal keturunannya itu.”

Dan itu tak cuma diucapkan. Ia mempraktekkannya langsung. Ia menolak dipanggil Raden Ajeng. Ia juga melarang adik-adiknya untuk menyembah dan membungkuk jika hendak berlalu di depannya, suatu aturan yang sebenarnya menjadi norma yang pantang dilanggar di rumah Kartini. Tapi toh ia lakukan juga. Kartini juga tegas mengatakan bahwa adat yang dihayatinya hanya kewajiban menghormat pada orang tua. Selain dari itu ia kritik habis.

Anti-kolonialisme dan anti-feodalisme adalah dua pokok wacana yang saat itu sedang ditonjolkan dalam diskursus politik di Indonesia, terutama oleh orang-orang kiri dan khususnya PKI. "7 setan desa dan 3 setan kota" adalah mereka-mereka yang dianggap merepresentasikan watak kolonial dan feodal.

Dengan jitu, Pramoedya menggunakan judul "Panggil Aku Kartini Saja". Judul itu sebenarnya diambil dari ucapan Kartini sendiri (lengkapnya: Panggil aku Kartini Saja -- itulah namaku). Melalui judul itu, Pram merangkum pandangan orang-orang kiri terhadap Kartini hanya dalam 4 kata saja.

Melalui parafrase itu, Kartini (di)hadir(kan) sebagai pribadi yang merdeka, mandiri, muncul sebagai subjek yang lolos dari pelbagai atribusi. Ya, panggil dia Kartini saja, tanpa embel-embel Raden Ajeng (saat masih gadis) atau Raden Ayu (saat sudah beristri) atau Nyonya/Mevrouw Djojoadiningrat (Bupati Rembang yang jadi suaminya), dan mungkin juga tanpa embel-embel pahlawan nasional.

Maka pada masa puncak kejayaan Demokrasi Terpimpin, Kartini pun berhasil "ke luar" dari dalam rumah, masuk ke area publik, dan menjadi orang yang dinarasikan sebagai manusia yang sangat sadar politik. Ini paralel dengan kondisi gerakan dan organisasi perempuan saat itu yang memang sangat melek politik.

Setelah pembantaian para jenderal di Lubang Buaya, gerakan perempuan mengalami titik balik. Seiring dengan dihancurkannya PKI dan Gerwani, baik secara politik maupun fisik, gerakan perempuan pun digelandang paksa untuk kembali mendekam di dalam rumah. Tidak ada lagi politik, yang ada hanya urusan domestik.

Apakah Kartini lantas dilenyapkan? Sama sekali tidak. Orde Baru ikut-ikutan mengambil-alih Kartini dan ikut memodifikasi narasi Kartini. Dalam narasi ini, Kartini "disempitkan" hanya menjadi ibu -- dan lebih spesifik lagi: ibu yang bersanggul dan berkebaya.

Sejak itulah, menyitir istilahnya Saskia Weiringa, seorang spesialis dalam sejarah perempuan Indonesia, Kartini tampil sebagai "kuntilanak wangi" (yang akan saya uraikan dalam artikel berikutnya).

Kartini pun kembali ke dapur, sumur dan kasur.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More